Strategi Donny Imam Priambodo Kembangkan Sektor Pertanian

Jawa Tengah, priambodo.id — Donny Imam Priambodo, caleg DPR RI Dapil Jateng¬†III nomor urut 9 mengaku akan fokus memperjuangkan¬†pertanian. Menurutnya pertanian perlu dikembangkan nilai daya saing dan meningkatkan optimalisasi produk.

“Saya ingin produktivitas pertanian meningkat. Caranya meningkatkan kemampuan para petani. Daya saing para petani harus diasah. Jika peningkatan ini dibarengi dengan penataan mekanisme produksi yang baik maka akan bisa meningkatkan perekonomian,” kata Donny yang juga menjadi anggota Komisi XI DPR RI.

Dia menilai Indonesia negara sangat subur. Namun, fakta tersebut jangan sampai terbengkalai. Bahkan banyak anggapan profesi petani itu rendah. Padahal, seluruh makanan yang dikonsumsi oleh seluruh penghuni negeri berasal dari tangan-tangan petani.

Selain kemampuan dan mekanisme produksi, lanjut Donny hal lain yang harus diperbaiki adalah orientasi masyarakat yang suka merendahkan profesi petani. Hal itu, menjadikan masalah karena Indonesia adalah negara yang negara kekayaan alamnya melimpah.

“Jika kita maksimalkan, tentu akan sangat menguntungkan bagi kita semua. Jadi jangan sampai ada yang menganggap profesi petani rendah. Sebab, dari hasil cangkul dan bajak petani, kita bisa makan,” ujarnya.

Donny menambahkan, perlunya keterpaduan aspek pertanian dan teknologi. Tujuannya meningkatkan produktivitas. Dengan adanya peran teknologi pertanian diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas hasil pertanian. Serta memudahkan bagi para pengelola sektor pertanian untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal.

“Pembenahan sektor pertanian yang menitikberatkan pada keterpaduan aspek pertanian dan teknologi. Maka akan mewujudkan ekonomi rakyat yang mandiri. Jika sektor pertanian meningkat, ekonomi nasional akan meningkat,” terang Donny.

Tidak hanya sektor pertanian, Donny Imam Priambodo juga mendukung bantuan kredit untuk petani. Dukungan tersebut dengan usulan Bank Indonesia (BI) untuk membentuk corporate farming atau Badan Usaha Milik Tani (BUMT). Dia menilai usulan tersebut menjadi jalan keluar meningkatkan produktivitas.

“Saya setuju jika pemerintah membentuk program corporate farming atau BUMT,” tandasnya.

Menurutnya, program corporate farming sosial BI yang berhasil diimplementasikan di sejumlah daerah melalui pendekatan klaster. Fasilitas yang diberikan BI berupa bantuan teknis bagi 35 klaster. Meliputi berbagai komoditas termasuk dengan sektor pertanian.

“BUMT ini perlu dibentuk karena skema kredit usaha rakyat (KUR) dari pemerintah belum efektif untuk sektor produktif. Adanya pembiayaan dari Bank ini menjadi lebih mudah karena berskala koperasi,” tambahnya. (Bung)